Tuesday, January 13, 2009
Beda generasi
Teman : Dit, kamu ngapain aja liburnya?
Adit : Jalan-jalan aja sama berenang. Kamu ngapain?
Teman : Main PS aja
Teman lain : Kalo aku main PS juga, sama main fesbuk (face book)
Begitulah, saya selalu terpesona dgn percakapan anak sekarang. Barangkali memang sudah menjadi sifat org yg menua, selalu saja membandingkan masa kini dgn masa lalu. Sebab saat saya seumur Adit (bahkan sampai SD) media paling canggih yg bisa dijadikan hiburan adalah video betamax Voltus, Google V dan Megaloman. Itu pun tak boleh diputar sering2 sama ortu, karenanya naik sepeda dan permainan tradisional lain menjadi satu-satunya ajang kegembiraan. Untuk bersosialisasi dgn kawan di tempat lain, saya bergantung pd kolom sahabat pena di majalah Bobo. Mengirim profil, lantas menunggu sambil berharap moga2 Bobo mau memuatnya supaya saya bisa mendapat surat dari teman2 di seluruh nusantara.
Dan, rupanya hal begitu sudah diambil alih oleh layanan macam Face Book. Hebatnya teknologi, dan beruntungnya Adit & kawan2nya. Saya iri pd generasi ini.
Saturday, November 22, 2008
Mamanya Adit
Saat mau duduk, beberapa ibu lain menyapa; Mamanya Adit ya? Saya mamanya Putri. Yang ini mamanya Tia. Wah, baru ketemu sekarang ya..maklum deh, yg antar jemput Putri itu si mbak-nya, jadi jarang lihat mamanya Adit deh. Seringnya ketemu sama mamanya Nita yg baju biru itu soalnya mamanya Nita itu kan satu kantor sama saya. Eh, mamanya Adit kerja atau di rumah aja, ya?’
Saya pusing mendengarkan pembicaraan ruwet itu. Sebab selama pembicaraan, para mama di sana ngobrol dgn asyiknya sambil menyebut nama org yg diajak bicara dgn’ mamanya Naufal, mamanya Tio, mamanya Fahri. Apa gak capek sih menyebut mamanya Risma berulang2 begitu. Sebetulnya mama-mama ini namanya siapa sih??
Tapi saya sadar, begitu memasuki gerbang pernikahan, banyak perempuan kehilangan namanya. Di kompleks dan perkumpulan arisan, saya selalu disebut dgn ibu Arief – nama suami saya – meski sudah memperkenalkan diri dgn Astrid. Lalu disekolah Adit, saya dikenal dgn mamanya Adit. Nanti di play group Sekar pun kelihatanya saya akan selalu dipanggil mamanya Sekar.
Barangkali cuma di blog ini saja saya benar2 bisa memakai nama sendiri, hehe..
Tuesday, September 16, 2008
BEDA
Cuma, melihat kedua anak saya yg berbeda sifat, mau gak mau saya jadi setuju dgn mitos di atas. Saat umurnya dua tahun, motorik kasar Adit berkembang pesat. Ia mampu berlari kencang tanpa terjatuh, melompat dgn kedua kaki, memanjati tali, meniti rintangan – semuanya berjalan alami tanpa kesulitan. Memang waktu itu dia sama sekali enggak tertarik membuka-buka halaman buku, menggambar atau mewarnai. Buku yg disodorkan dipakainya sebagai terowongan utk mobilannya. Kertas gambar dirobek-robek hanya krn dia suka mendengar bunyinya. Karena belum ada pembanding, saat itu saya mengira itu bukan apa-apa.
Namun, Sekar saat ini dua tahun dan menunjukkan perkembangan yg berbeda sekali. Ia kadang masih jatuh saat berlari (apalagi tanpa sepatu), belum mampu melompat (hanya berjinjit), memanjat dan meniti masih harus dipegangi. Menariknya, dia sudah mampu menggambar garis lurus dan melingkar dgn sangat baik. Dia senang membaca buku, membukai halaman-halamannya lalu minta diceritakan, bahkan dia sudah bisa menyebut angka 1-10 secara urut – kemampuan yg baru dipelajari Adit setelah dia berulang tahun yg keempat.
Dalam bermain pun, meski saya gak membedakan jenis permainan, Sekar lebih memilih permainan yg kalem macam nina bobok, jual-jualan atau pasel. Adit, pastinya dia hanya tertarik dgn permainan tarung ala ultraman sampai Naruto, memanjat pagar, menaiki pohon, atau sekedar berteriak-teriak.
Gak ada yg salah dgn semua itu, saya hanya merasa tertarik bagaimana dua org yg berasal dari org tua yg sama – bisa begitu berbeda. Tapi semuanya menyenangkan, dan membuat saya belajar bhw berlaku adil pd anak-anak berarti memperlakukan mereka secara berbeda, sebab mereka memang individu yg berbeda.
Tuesday, September 09, 2008
STUBBORN
Sejak Sekar mulai lebih jelas mengucapkan kata-katanya, saya mulai kewalahan dgn sikap keras kepalanya yg kadang masih diikuti dengan sifat tantrum-nya. Dulu Adit pun begitu, cuma dgn bertambahnya usia, dia bisa sedikit toleran meski tetap suka ngatur’
Salah satu permainan yg paling kami sukai adalah main peran. Beberapa kali kami main peran sebagai Postman Pat dgn kucingnya, atau saya jadi Barney sementara Sekar jadi Baby Bob dan Adit jadi BJ, atau main penjual dan pembeli. Kalau dulu, saya adalah sutradaranya; mengatur peran dan jalan cerita..sekarang saya lebih sering harus mengalah dgn kedua ’tukang ngatur’ itu. Lima menit pertama permainan akhirnya cuma berisi adu argumen antara saya dan mereka ttg siapa berperan sebagai apa dan bagaimana jalan permainannya. Lalu, kalau saya sudah diam saja dan menuruti maunya mereka, adu argumen tetap belum selesai..sebab keduanya msih akan saling ’ngatur-ngatur’ dan diakhiri dgn teriakan marah Adit dan tangisan kesal Sekar.
Kalau sudah begitu, biasanya saya tinggal baca buku aja..gak jadi main, hehe..
MAU PUASA
Saya terharu sekaligus kuatir bhw dia belum mampu utk puasa. Jadi saat makan sahur, saya bilang bhw kalau dia lapar dan haus boleh buka. Paginya, saat bersiap berangkat sekolah, saya menawarinya sarapan tapi ditolaknya. Begitu juga pas pulang sekolah, dia cuma minta minum air putih. Saya mulai kuatir bhw dia terlalu memaksakan diri, makanya saya menawari makan siang, dan masih ditolaknya pdhal sudah jam satu lewat.
Saya tahu saya harusnya mendukung kemauan Adit, tapi begitulah saya terlalu kuatir krn gimana pun juga dia masih lima tahun, masih dalam proses belajar puasa dan barangkali tubuhnya gak kuat kalau harus berpuasa penuh.
Akhirnya, jam setengah tiga setelah tidur siang, Adit minta makan.
DIALOG LUCU
Ya gak boleh dong. Coba lihat teman2mu, ada gak yg pakai celana dalam di luar. Kan malu..
Kalau gitu Superman hebat dong..dia gak malu pakai celana dalam di luar
#$@%&***????
---
Ayah, rumah itu terbikin dari apa sih?
Dari bata sama semen
Semennya buat apa?
Ya..buat ngelem batanya supaya rumahnya kuat.
Kalau semen itu kuat kok gampang hancur pas dipukul Hellboy, yah?
???????
----
Kok Superman sama Batman bisa terbang ya?
Kan punya kekuatan super.
Kalau Adit pingin punya kekuatan super, Adit musti makan yg banyak sama nurut sama ibu, ya?
Ya..gitu deh (bingung)
Catatan buat diri sendiri;
Barangkali sebaiknya saya gak terlalu sering membiarkan Adit nonton film-film superhero.
Monday, September 08, 2008
Empat
Dapat tag ini dari Ivana. Setelah dikerjakan ternyata mayoritas jawaban saya berorientasi pd anak-anak, maka rasanya lebih pas diletakkan di sini ketimbang di blog yg satunya.
So, here they are:
Empat Kerjaan
Menyiapkan nak-anak sebelum berangkat sekolah
Mengantar-jemput sekolah
Main sama Adit dan Sekar
Membikin postingan dan blogwalking
Empat Tempat Tinggal
Jakarta – saat TK sampai SD
Makassar – waktu SMP dan SMA
Denpasar
Jogja (dua-duanya di waktu kuliah sampai sekarang)
Empat film yang udah 100x ditonton
Barney
Thomas the train
Postman Pat
The Sesame Street
(Kalau dihitung2 barangkali memang sudah seratus kali saya nonton film2 itu bareng anak-anak)
Empat TV show favorit
Dora the Explorer
Blues Clues
Jalan Sesama
Naruto
(sebenarnya ini sama sekali bukan favorit, tapi saya selalu kalah suara dgn anak-anak saya saat menonton TV. Begitulah akhirnya saya menontoninya setiap hari, hiks!)
Empat Makanan Favorit
Pecel
Gethuk
Arem-arem
Rempeyek
(Maaf, barangkali gak banyak yg tahu jenis makanan apa saja itu..selera saya memang rada ndeso, hehe..)
Empat situs favorit
Blog sendiri :)
Empat Target Berikut
Mama Leon & Leah
Mama Dennis & Dika
Mama Latifah
Mama Aurelle
Jadi, para mama...selamat bersenang-senang ya!
Saturday, August 02, 2008
MAINAN BERGENDER
Seorg bude yg mampir saat liburan lalu agak shock saat mendapati Sekar sedang bermain robot-robotan kakaknya. Kata bude itu; ’Lho..anak cewek kok main gituan, entar jadi laki lho!’. Tentu saja saya gak suka komentarnya, sebab 1) gak mungkin anak perempuan berubah jadi lelaki hanya dgn mainan – perlu operasi plastik super ribet dan berbiaya mahal; 2) mainan tak punya gender.
Barangkali saya terlalu keras, tp saya memang gak pernah melarang Sekar bermain robotan atau mobilan, begitupun dgn Adit yg suka saya ajak main masakan atau belanja-belanjaan. Saya percaya, buat Adit, permainan begitu gak akan membuatnya kebanci-bancian, malah akan lebih mengasah sensitivitasnya terhadap pekerjaan domestik. Dan saya gak suka bude saya yg mengotak-kotakan mainan (atau permainan) berdasarkan gender. Sayangnya, saya takut kualat apabila menyanggah bude saya di depan banyak org, akhirnya saya cuma bisa diam.
Jadi, saya percaya bhw semua mainan dan permainan itu bagus utk kedua jenis kelamin, dan tidak akan mengubah atau membuat bingung jati diri anak. Waktu kecil, saya toh bermain bola dan memanjati pohon..semua itu menyenangkan. Saya ingin anak-anak saya senang. Pd akhirnya toh mereka juga akan melihat dan mempelajari sendiri perbedaan gender itu. Buktinya; kalau Adit bermain dgn cara meng-adu tanding Ultraman dgn Batman, maka Sekar akan menidurkan secara berjajar kelima Power Rangers, lalu menyelimutinya dan bilang ke saya ’njes..bok..shhhh!’ (power rangers lagi bobok, stttt!).






